herdermssingkil2

SINGKIL – Kamis, 26 Februari 2026. Di bawah naungan syahdu Mushola Mahkamah Syar’iyah Singkil, sebuah suasana takzim menyelimuti para aparatur sipil negara dan jamaah setelah menunaikan salat Zuhur berjamaah. Hari ini, yang bertepatan dengan momentum bulan suci ramadhan, Ketua Mahkamah Syar’iyah Singkil hadir langsung di podium mimbar untuk menyampaikan tausiyah dalam rangkaian program Kultum Ramadhan.

IMG 20260226 WA0018

Mengusung judul yang sangat esensial namun mendalam—"Ramadhan"—tausiyah ini menjadi pengingat bagi seluruh jajaran hakim, Kepaniteraan, Kesekretariatan hingga staf tentang hakikat sebenarnya dari bulan yang penuh kemuliaan ini.

Ramadhan sebagai Momentum "Recharge" Spiritual

Dalam pembukaannya, Ketua Mahkamah Syar’iyah Singkil menekankan bahwa Ramadhan bukanlah sekadar ritual tahunan menahan lapar dan dahaga yang bersifat mekanis. Beliau mengibaratkan Ramadhan sebagai sebuah Madrasah (sekolah) yang didesain langsung oleh Allah SWT untuk mendidik karakter manusia.

"Ramadhan adalah momentum bagi kita untuk melakukan 'reset' terhadap niat dan integritas. Jika kita keluar dari bulan ini dengan kualitas kerja dan ibadah yang sama seperti sebelumnya, maka kita harus mengevaluasi kembali di mana letak puasa kita," ujar beliau di hadapan para jamaah.

Esensi Integritas dalam Tugas Kedinasan

Salah satu poin menarik yang ditekankan adalah kaitan antara ibadah puasa dengan tugas di Mahkamah Syar’iyah. Beliau menyampaikan bahwa puasa adalah ibadah "Sirri" (rahasia)—hanya hamba dan Tuhannya yang tahu.

Nilai kejujuran ini, menurut beliau, harus diimplementasikan dalam menjalankan tugas sebagai penegak hukum dan pelayan Masyarakat yaitu:

  • Integritas Tinggi: Sebagaimana seseorang tidak berani membatalkan puasa meski tidak ada yang melihat, begitupun dalam bekerja, seorang aparatur harus tetap jujur meskipun tanpa pengawasan pimpinan.
  • Sabar dalam Pelayanan: Rasa haus dan lapar saat berpuasa seharusnya melatih kesabaran ekstra saat menghadapi masyarakat pencari keadilan yang datang dengan berbagai persoalan.

Ramadhan: Antara Keadilan dan Kasih Sayang

Lebih lanjut, Ketua Mahkamah Syar’iyah Singkil menguraikan bahwa kata "Ramadhan" sendiri berasal dari akar kata yang berarti "membakar". Beliau mengajak jamaah untuk membakar sifat-sifat buruk seperti kesombongan, rasa malas, dan egoisme yang sering kali menghambat produktivitas kerja sehari-hari.

Beliau juga mengingatkan bahwa di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka lebar, yang dalam konteks birokrasi dapat dimaknai sebagai "pembukaan pintu pelayanan yang semudah-mudahnya bagi masyarakat".

Kegiatan Kultum yang berlangsung sekitar 15 menit tersebut diakhiri dengan pesan yang menyentuh tentang kefanaan waktu. Mengingat hari ini sudah memasuki tanggal 26 Februari 2026, beliau mengingatkan bahwa hari-hari Ramadhan berlalu begitu cepat.

"Jangan biarkan Ramadhan tahun ini berlalu tanpa meninggalkan jejak perubahan pada akhlak dan profesionalisme kita di Mahkamah Syar’iyah Singkil ini," tutup beliau dengan nada penuh harap.

Acara ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh keluarga besar Mahkamah Syar’iyah Singkil diberikan kekuatan untuk menyelesaikan sisa Ramadhan dengan amal terbaik dan tetap konsisten dalam menegakkan keadilan di Bumi Sekata Sepekat. Semoga…